PK Sejahtera Kabupaten Bekasi
 
 

 
Beranda
Peta Situs
Tentang PK Sejahtera
Sejarah PK Sejahtera
Piagam Deklarasi
Visi dan Misi
Kebijakan Dasar
Keanggotaan
Rubrik

Interaktif
Download
Web Links
Buku Tamu
Kirim Artikel
Kontak Kami
Quran Online

Rubrik Utama
Info Keadilan
Kab. Bekasi & Jawa Barat
Parlementaria
Info DPD dan DPC/DPRa
Media Bicara PKS
Dunia Islam
MUSDA - 1

Rubrik Tarbiyah
Kaderisasi
Kisah & Hikmah
Imunitas Da'wah
Wanita & Keluarga
Tsaqafah
Samudera Hikmah
Bina Ruhul Jadid
Ulumul Qur'an

Pesan Singkat
Nama*
Email
Pesan*
  *harus diisi

Tools For Community
Who's Online Now
Statistik Situs

Statistik Situs
         Sejak 1 Mei 2006
Pengunjung : 136243
Hits : 1514893 hits
Bulan Ini : 2113 users
Hari Ini : 111 users
Online : 3 users

   


Situs Arkeologi : Jejak Sejarah Peradaban di Kampung Buni
Kamis, 07 Juni 07 - oleh : Redaksi

PKS-Kab.Bekasi OnLine : Matahari belum terik ketika Tua Masna menyebar benih padi di petak sawah milik H Jari. Pandangan perempuan asal Kampung Buni, Desa Muara Bakti, Babelan, itu tiba-tiba tertuju pada satu benda dengan warna keemasan, mencuat dari lubang di lahan sawah yang becek.

Tua Masna mengorek benda yang terbenam itu. Setelah benda itu dicuci sekadarnya, Tua Masna terkejut karena ternyata giwang emas. Lantaran masih tak yakin, Tua Masna lalu membawa temuannya itu ke seorang tukang emas di kampungnya.

"Setelah diperiksa, ternyata giwang itu memang dari emas. Penduduk di kampung ini lantas beramai-ramai menggali di sawah milik H Jari sampai sawah itu rusak," kata Sakihudin (52), cucu Tua Masna, menuturkan peristiwa yang terjadi sekitar 46 tahun silam tersebut.

Menyusul penemuan Tua Masna, penggalian liar di kampung ini tak terbendung. Semakin banyak warga Kampung Buni yang menemukan perhiasan emas. Tidak jarang pula mereka menemukan kerangka manusia atau periuk kuno di dekat kerangka itu saat sedang menggali.

Penggalian liar oleh warga dapat dilarang beberapa kali, baik oleh pemilik sawah maupun pemerintah, namun tetap saja ada yang secara sembunyi-sembunyi melakukan penggalian. Sakihudin menuturkan, karena banyaknya penemuan perhiasan emas dan seringnya warga bertransaksi menjual emas, Kampung Buni lalu lebih dikenal dengan nama Kampung Pasar Mas.

Membuka rahasia

Penemuan Tua Masna dan warga Kampung Buni itu sendiri menjadi kunci yang membuka rahasia sejarah peradaban manusia Indonesia. Dari hasil penelitian arkeolog yang dilakukan beberapa tahun setelah penemuan giwang emas, tanah di Kampung Buni ini diketahui menyimpan peninggalan arkeologi dari masa prasejarah hingga masa berdirinya kerajaan tertua di Jawa, yakni Tarumanegara.

"Benda-benda peninggalan arkeologi yang ditemukan di Buni menunjukkan bukti adanya kehidupan masyarakat zaman akhir prasejarah di pantai utara Jawa Barat hingga masa Kerajaan Tarumanegara," kata Hasan Djafar, arkeolog dari Universitas Indonesia, Rabu (30/5).

Hasil penelitian para arkeolog juga menunjukkan, benda-benda tinggalan arkeologi serupa di Buni ternyata ditemukan pula di tempat lain. Daerah sebarannya luas, meliputi sepanjang pesisir pantai utara Jawa Barat, mulai Tangerang, Jakarta, Bekasi, hingga Karawang dan Cirebon.

Dalam dunia arkeologi, daerah sebarannya itu dikenal dengan istilah kompleks tembikar Buni (Buni Pottery Complex). Sejumlah arkeolog juga menyebut daerah sebaran tembikar Buni itu dengan Horison Buni.

Beberapa bukti peninggalan arkeologi sezaman yang sudah ditemukan antara lain prasasti Tugu di Cilincing, Jakarta Utara, dan kompleks candi tertua di situs Batujaya di Karawang.

Sayangnya, penggalian liar dan penjarahan perhiasan selama hampir tiga dasawarsa nyaris merusak seluruh bukti sejarah peradaban Nusantara di Kampung Buni. Kondisi ini diperparah dengan pembangunan terusan kanal Cikarang Bekasi Laut sekitar tahun 1980.

Dari sejumlah temuan yang dapat diselamatkan, bukti peninggalan Buni ini meliputi peralatan batu dari masa neolitik, artefak dan perhiasan dari masa perunggu, hingga perhiasan dari masa Kerajaan Tarumanegara.

Bercocok tanam

Hasan menambahkan, dari peninggalan arkeologi yang ditemukan, masyarakat di sepanjang pesisir utara Jawa Barat, termasuk di Kampung Buni, diketahui sudah mengenal budaya bercocok tanam dengan teknologi bertani. Komunitas Buni juga sudah menjalin kontak dengan bangsa India, diperkirakan mulai abad ke-2 Masehi.

Dari sejumlah tulisan dan referensi lain yang diperoleh, bukti-bukti hubungan dua peradaban, Nusantara dan India, antara lain dari penemuan gerabah atau tembikar Arikamedu, berasal dari pelabuhan di India selatan, di sejumlah situs arkeologi di Tanah Air, termasuk Buni.

Sisa peninggalan bersejarah itu hingga kini masih tersimpan di lahan-lahan milik warga Buni. Sakihudin menuturkan, Pemerintah Kabupaten Bekasi pernah berencana menjadikan kampung itu sebagai kawasan situs sehingga peninggalan arkeologi yang ada dapat diselamatkan.

"Dulu pernah ada rencana untuk melindungi situs ini, tetapi sampai sekarang belum terwujud. Sampai saat ini tidak ada perhatian terhadap situs ini," ujar Sakihudin.

Sumber : Kompas

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

[ Back To Beranda ]



 
   
Top Download
Prestasi Pemkab Bekasi Saduddin (229)
Jadwal Kampanye Parpol (190)
Tadzkiroh Jabat Tangan (148)
RBT KAMPANYE PKS 2009 (103)

Headline News
Situs Dakwah :
Dakwatuna.com
Al-Ikhwan.net

Pemerintahan :
Presiden RI
LKBN Antara

Media Massa Nasional :
Indosiar News
Detik News
Media Indonesia News
Tempo News
Kompas News
Suara Merdeka News

 
DPD PK Sejahtera Kabupaten Bekasi © 2006
Jl. Perjuangan No.44 RT.02 RW.02 Desa Tambun Kec. Tambun Selatan, Bekasi
Telp. 021-88327165 - email : admin @ pks-kab-bekasi.org
Masukan, kritik dan saran bisa via SMS Admin ke 0857 1905 9415