Sumber : Republika
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai kelanjutan dari Partai Keadilan (PK) merayakan miladnya yang ke-8. Acara puncaknya 20 April besok, di Istora Senayan, Jakarta. Momen milad ini rasanya tepat untuk melakukan refleksi apa yang sudah ditorehkan oleh PKS. Refleksi itu akan menjadi pijakan untuk melakukan agenda-agenda partai ke depan.
Kematangan sebuah entitas pergerakan dakwah dan politik tidak hanya dihitung dengan umurnya. Pengalaman sejarah panjang pergerakan dakwah dan politik bangsa ini, menjadi inspirasi besar dalam proses kematangan PKS. Milad ini tentunya bukan sekadar rutinitas seremonial. Momentum ini merupakan sarana evaluasi diri antargenerasi dalam memahami napak tilas sejarah dakwah PKS. Pasca-Masyumi dibubarkan oleh Orde Lama, partai Islam sepertinya telah mati suri. Ketika mencoba bangkit kembali di awal Orde Baru, tidak pernah diberikan peluang. Demokrasi hanya sekadar 'lipstik'. Adanya lima paket undang-undang politik produk hukum orde baru, selain Golkar, tidak memungkinkan partai-partai lain dapat eksis.
Memulai Sejarah
Dalam perjalanannya, PKS memilih gerakan tarbiyah sebagai modelnya. Pola gerakan ini tidak hadir dengan tiba-tiba, tapi telah dirintis oleh anak-anak muda sekitar tahun 80-an. Gerakan tarbiyah sebagai sarana yang paling efektif untuk melakukan introspeksi dan penyadaran Islam terhadap generasi muda; menumbuhkan semangat berdakwah sambil belajar kesabaran mengadapi kediktatoran orde baru; mengajak ke jalan dakwah, dengan menghindari lawan arus terhadap orang yang belum mengapresiasi Islam.
Lebih dari itu gerakan tarbiyah juga mencoba mengemas gerakan dakwah secara elegan sesuai kondisi zamannya. Karena pada waktu itu, setiap kritikan terbuka atau tertutup terhadap Pemerintah Orde Baru, selalu dipandang apriori dan curiga, sehingga menyebabkan posisi umat Islam tak memiliki ruang gerak yang leluasa dalam aktivitas dakwahnya.
Momentum reformasi 1998 saat yang tepat untuk melakukan konsolidasi ummat. Idealnya hanya ada satu atau dua partai Islam. Namun usaha dialog dengan perdebatan yang panjang antara tokoh-tokoh Islam masih juga belum mencapai kata sepakat terhadap nasib politik umat ke depan. Akhirnya masing-masing komponen umat mengambil ijtihad politiknya.
Buntunya titik temu di kalangan tokoh-tokoh Islam cukup beralasan. Pasalnya, selama puluhan tahun di masa Orde Baru, hampir tidak pernah ada komunikasi dan konsolidasi untuk menyalurkan aspirasi politik umat Islam, karena memang pemerintah orde baru tidak pernah menyetujui lahirnya partai Islam.
Pada kondisi tersebut, gerakan tarbiyah sebagai bagian dari komponen ummat, berijtihad untuk ikut fastabiqul khairat mengambil peran dengan mendirikan Partai Keadilan. Dengan kerja keras seluruh kader tarbiyah --walaupun harus merubah nama menjadi PKS karena tidak memenuhi electoral threshold dua persen pada Pemilu 1999-- akhirnya pada Pemilu 2004 dapat meraih suara tujuh persen. Capain itu menjadikan eksistensi PKS makin mendapat tempat dalam peta politik Indonesia.
Tapi perjalanan dakwah PKS masih panjang. Usaha untuk menuju negara demokrasi, adil dan sejahtera, masih memerlukan kerja keras dan berkesinambungan.
Kesinambungan Sejarah
Para pengamat politik masih menelusuri akar sejarah perjuangan PKS. Bagaimana menempatkan PKS dalam konteks sejarah Indonesia ? Bila dipetakan, ada tiga komunitas kader PKS yang menjadi perintis kelahirannya. Pertama, para aktivis kampus. Kedua, mahasiswa Indonesia yang pulang belajar dari luar negeri. Antara lain, Timur Tengah, Amerika, Eropa, Jepang dan lain-lain. Ketiga, para aktivis ormas Islam dan kalangan pesantren.
Begitupun para perintis kelahiran negeri ini, dipelopori seperti tiga komunitas generasi diatas yaitu; HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Halim, RA. Kartini, dan lain-lain. Semangat PKS membawa misi yang sama dari kesinambungan sejarah perjuangan bangsa ini. Perbedaan ijtihad dakwah dan politik umat bukan pada perbedaan prinsip perjuangan. Perbedaan hanya dalam memahami dan mengimplementasikan fikih dakwah dan politik, dengan realitas zaman yang selalu dinamis perubahannya.
Nilai-nilai sejarah dan jatidiri bangsa akan terjaga kesinambungannya apabila agenda pendidikan menjadi basis perubahannya. Untuk itu amatlah tepat bila tema milad kali ini adalah ''Majukan Pendidikan, Kembalikan Jati diri Bangsa''. PKS memandang kualitas produk demokrasi berbanding lurus dengan kualitas pendidikan masyarakatnya.
Ada benarnya apa yang dikatakan Muhammad Iqbal: Demokrasi kadang kala menghitung jumlah kepala manusianya saja, tapi tidak menghitung isi otak kepalanya. Untuk menjawab kekhawatiran Iqbal, perlu penyempurnaan dengan memprioritaskan peningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Walaupun UUD 45 telah mengamanahkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen, lagi-lagi pemerintah belum serius memenuhinya secara konsekuen. Pendidikan Indonesia telah lama tidak menjadi prioritas. Apapun alasannya, pendidikan menjadi kata kunci perubahan menuju masyarakat adil dan sejahtera.
Bangsa ini telah menjalani sejarah panjang yang sangat berat dan kritis. Masa kemerdekaan, Orde Lama dan Orde Baru telah banyak memberikan pembelajaran terhadap bangsa ini. Suasana pasca-reformasi menjadikan kita akan maju cepat, atau makin mundur kebelakang. Inti persoalan bangsa adalah penuntasan KKN, keadilan hukum, dan kesejahteraan rakyat.
Delapan tahun perjalanan reformasi sudah lebih dari cukup untuk memetakan persoalan bangsa ini. Reformasi masih berjalan lambat, tebang pilih dalam penuntasan KKN, dan keadilan hukum masih belum serius pada akar masalahnya.
Pada sisi lain, bangsa ini dihadapkan pada persoalan penjajahan globalisasi. Persoalan Freeport, impor tekstil Cina yang menjadikan lesunya produk tekstil Indonesia, dan ikut campurnya Australia pada kasus Papua adalah puncak dari penjajahan globalisasi. Reformasi perlu keberanian secara kolektif. Sikap inilah yang belum dimiliki para pemimpin di negeri ini.
Sikap politik PKS pasca-Majelis Syura ke-3 2005 cukup jelas yaitu, sebagai Mitra kritis konstruktif pemerintah. PKS secara konsisten, akan terus mengawal amanah reformasi ini sampai tuntas. Keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI tetap harus selalu terjaga. Sikap politik PKS akan selalu dinamis, selama bangsa ini masih terus mencari perubahan yang terbaik.
Kiprah PKS pada Milad ke-8 ini bersamaan dengan umur kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki ke-60 tahun. Pengalaman pahit dan manisnya negeri ini harus mampu diracik kembali oleh PKS menjadi obat untuk bangkitnya Indonesia, agar kesinambungan perjuangan bangsa tidak terputus kembali dari mata rantai sejarahnya. Selamat milad. |