PKS-Kab.Bekasi OnLine : Siti Robiatun (25) masih terbaring lemas di kamar 106 RS Annisa, Jl Cikarang Baru No 31, Lemahabang, Kabupaten Bekasi, kemarin. Guru matematika dan fisika Madrasah Aliyah (MA) Al Barkah, Lemahabang, tersebut sesekali merintih, merasakan kepalanya yang sakit.
Dengan suara parau dan terbata, Siti mengaku pingsan sesaat setelah gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta, Sabtu (27/5) lalu. ''Mungkin saya pingsan karena tertimpa atap yang runtuh,'' kata Siti.
Siti merupakan bagian dari rombongan MA Al Barkah yang berekreasi ke Yogyakarta akhir pekan lalu. Rekreasi yang merupakan bagian dari acara perpisahan siswa kelas 3 MA Al Barkah tersebut, harus berakhir dengan duka, setelah kepala sekolah (Kepsek) mereka, Beyhasan Hamdy, menjadi salah satu dari ribuan korban tewas. Selain Hamdy, 20 murid kelas 3, satu murid kelas 2, dan sekitar 10 guru dan staf MA Al Barkah, yang ikut menjadi korban luka gempa Yogyakarta.
Rencananya, puluhan siswa beserta beberapa guru dan staf MA Al Barkah akan menghabiskan dua hari liburan di Yogyakarta akhir pekan lalu. Berangkat Kamis (25/5), dengan menggunakan bus Langgeng Jaya, dari Bekasi, mereka sampai di Plered, Bantul, sekitar pukul 23.00 WIB, dan langsung beristirahat. Setelah beristirahat semalam di salah satu rumah milik kerabat kepala sekolah bernama Ibu Sum, Jumat (26/5), mereka habiskan dengan berkunjung ke Imogori dan berwisata pantai ke Parangtritis.
''Tidak ada firasat apa-apa, namun yang agak aneh, ketika Sabtu (27/5) pagi kami semua bangun lebih awal,'' ujar Ropiah, yang kamar rawat inapnya bersebelahan dengan Siti Robiatun. Menurut Ropiah (17), hari itu (Sabtu --Red), seluruh rombongan telah bangun sejak pukul empat pagi. Kebetulan, jadwal rekreasi MA Al Barkah hari itu adalah kunjungan ke Candi Prambanan dan Borobudur, sehingga lanjut Ropiah, seluruh siswa terlihat semangat menyambut pagi.
Selepas usai menunaikan shalat Subuh, para rombongan kemudian bersantap sarapan pagi di beberapa ruang tamu rumah Ibu Sum. Belum selesai mereka sarapan, datanglah gempa, yang dalam hitungan detik merobohkan sebagian dinding dan atap rumah. Kepanikan pun seketika menyeruak.
''Allahu Akbar, Allahu Akbar, teriak sebagian dari kami yang berhasil selamat,'' cerita Syair Suwardi, staf Bagian Tata Usaha MA Al Barkah. Ketika gempa terjadi, Syair mengaku berada di koriodor rumah, karena telah selesai sarapan lebih dahulu. Meski sempat menghindar, punggung sebelah kanan Syair terluka, tertimpa pintu rumah yang roboh ke arahnya. Gempa pertama berlangsung tidak sampai satu menit kata Syair, dan setelah itu, dia dan beberapa guru yang lain berusaha mengevakuasi murid-murid yang tertindih puing reruntuhan. ''Ada dua murid yang berhasil saya evakuasi, salah satu murid kakinya patah, karena tertimpa tembok,'' jelas Syair.
Setelah sekitar setengah jam mengevakuasi murid-murid ke pinggir jalan tepat di depan rumah Ibu Sum yang roboh, para guru kemudian memutuskan langsung pulang ke Bekasi. Suasana di dalam bus selama perjalanan pulang, kata Syair, sangat tidak keruan. Terlebih, ketika terdengar isu akan datangnya tsunami akibat beberapa gempa susulan dalam intensitas kecil, dan berapa warga Yogyakarta yang panik, memaksa ikut masuk ke bus yang ditumpangi rombongan MA Al Barkah.
Di bus dalam perjalanan pulang tersebut, menurut Syair, Kepsek Beyhasan, masih terlihat duduk di kursi paling depan tepat di sebelah sopir. Dia tidak mengetahui secara persis kejadian yang menimpa kepseknya tersebut, hingga di tengah perjalanan, Beyhasan meminta di antar ke klinik terdekat, setelah beberapa kali muntah-muntah. Selesai berobat di Klinik Mitra Sehat, Jalan Wates Km 9, Yogyakarta, di dalam bus, kata Syair, Beyhasan terlihat sedikit kejang dan tidak bisa membuka rahangnya. ''Akhirnya Pak Beyhasan kami antar ke RSU Sardjito, dan beliau meninggal di sana,'' jelas Syair.
Meski bersama-sama menahan sakit sambil terus membaca ayat-ayat kursi, bus rombongan Al Barkah akhirnya berhasil sampai di Lemahabang, Ahad (28/5) dini hari. Sesampainya di Bekasi, seluruh rombongan langsung dievakuasi ke RS Annisa. Hingga kemarin, masih terdapat tujuh siswa dan satu guru MA Al Barkah yang masih menjalani rawat inap. Sedangkan puluhan murid lain sudah bisa melakukan rawat jalan.
''Delapan pasien yang masih dirawat inap kondisinya baik, dan langsung dikonsultasikan ke dokter spesialis saraf dan bedah,'' terang Supervisor RS Annisa, Ika Hari Warti, seraya menambahkan hanya terdapat satu siswa yang mengalmi patah tulang bernama Novianti. Ruang-ruang rawat inap kelas III RS Annisa, kemarin, terlihat hiruk pikuk ketika jam besuk RS tersebut dimanfaatkan oleh puluhan siswa MA Al Barkah untuk menjenguk temannya. ''Usai upacara bendera hari ini (kemarin --Red), kami melaksanakan shalat ghaib. Kami semua tak kuat menahan tangis saat upacara, karena kepala sekolah kami telah pergi,'' ungkap salah satu penjenguk, dengan raut sedih.
Sumber : Republika |