PK Sejahtera Kabupaten Bekasi
 
| beranda | tentang PKS | buku tamu | kirim artikel | download | contact |                                       3 Sya'ban 1429 H
 

 
Beranda
Peta Situs
Tentang PK Sejahtera
Sejarah PK Sejahtera
Piagam Deklarasi
Visi dan Misi
Kebijakan Dasar
Keanggotaan
Rubrik

Interaktif
Download
Web Links
Buku Tamu
Kirim Artikel
Kontak Kami
Gallery Photo
Quran Online

Rubrik Utama
Info Keadilan
Teropong Kab. Bekasi
Parlementaria
Info DPD dan DPC/DPRa
Media Bicara PKS
Dunia Islam
MUSDA - 1

Rubrik Tarbiyah
Kaderisasi
Kisah & Hikmah
Imunitas Da'wah
Wanita & Keluarga
Tsaqafah
Samudera Hikmah
Bina Ruhul Jadid
Ulumul Qur'an

Pesan Singkat
Nama*
Email
Pesan*
  *harus diisi

Tools For Community


CHATTING Yuk
Who's Online Now
Statistik Situs
Website Status

Statistik Situs
         Sejak 1 Mei 2006
Pengunjung : 112027
Hits : 864621 hits
Bulan Ini : 1886 users
Hari Ini : 109 users
Sedang Online : 4 users

   


Tadabbur 28 : Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Hamba Ramadhani
Kamis, 19 Oktober 06 - oleh : Redaksi

PKS-Kab.Bekasi OnLine : Setiap bulan Ramadhan datang, ada perubahan besar pada beberapa orang. Dengan semangat, mereka melakukan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan tingkat intensitas yang jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Namun sayang, setelah Ramadhan berlalu dan usai, maka berlalu pula dan usai pulalah intensitas ibadah yang selama Ramadhan mereka lakukan.

Pendekatan cara beribadah seperti ini tentu sangat keliru dan tidak benar. Sebab, hanya menjadikan Ramadhan sebagai tumpuan utama beribadah dan dengan menyepelekan bulan-bulan lain. Maka, sama artinya bahwa kita melakukan ibadah yang hanya bersifat musiman. Kita menjadi hamba musiman dan bukan hamba yang selalu istiqamah dan lurus di jalan Allah.

Padahal, tujuan puasa yang sebenarnya adalah sebagaimana yang Allah firmankan,

�Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan berpuasa kepadamu sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang datang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah: 183).

Yakni, membidani lahirnya ketakwaan kita kepada Allah secara berkesinambungan dan kontinyu. Oleh karena itulah, Allah menggunakan kata tattaquun dalam bentuk fi�il mudhari� yang berarti untuk saat ini dan yang akan datang.

Artinya adalah bahwa dengan puasa, seseorang akan mampu melakukan internalisasi ketakwaan ini dalam darah dagingnya, sehingga dia memiliki kepekaan rabbani yang terus menerus, tanpa mengenal waktu, kondisi, dan ruang. Ketakwaaan yang sebenarnya bukan hanya ada dan harus terasa di bulan Ramadhan, namun juga hendaknya terus bergulir di luar bulan suci, sebagai buah dari latihan-latihan yang melelahkan di bulan Ramadhan ini.

Sebab, ketakwaan tidak memiliki batas ruang dan zaman tertentu. Dia harus terus mengalir deras kapan dan dimana saja dia berada. Bagi manusia takwa, dirinya akan senantiasa berada dalam aura rabbani yang menggelegak-gelegak untuk melakukan kebaikan dan kebajikan, untuk menjauhi larangan dan maksiat kepada Allah.

Dalam hari-harinya, akan terasa nuansa rabbaniyah yang menggerakkan dirinya untuk senantiasa dekat dengan Allah, merapat ke sisi-Nya, mendekat ke hadirat-Nya. Mata hatinya memiliki �radar� furqan yang sangat gampang membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang batil dan yang hak, antara cahaya Tuhan dan kegelapan syetan.

Nuraninya memiliki sensitivitas tinggi dalam memilah antara kebaikan dan kejahatan. Hamba rabbani akan senantiasa berada dalam koridor-koridor lurus Tuhannya dan akan senantiasa menjauhi jerat-jerat syetan.

Namun sekali lagi, aktivitas itu harus senenantiasa berlangsung tanpa henti dan jeda. Gelombang ketakwaan itu harus terus bergolak dan berhembus di luar bulan Ramadhan.

Suatu kali dikatakan kepada Imam Bisyr, bahwa ada sekelompok manusia yang hanya bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan dan dia diminta pendapatnya mengenai orang yang memiliki sikap beribadah seperti itu. Dia menjawab, �Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shaleh akan senantiasa bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun.�

Jawaban ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba rabbani, yakni hamba yang selalu dekat dengan nilai-nilai ketuhanan, amal-amalnya akan senantiasa bertaburan bak gemintang, kapan saja dan bulan apa saja. Keterikatan kita bukan pada bulan itu, namun keterikatan kita senantasa berupa ketaatan kepada Allah.

Hamba rabbani akan menggetarkan dinding-dinding malam dengan dzikirnya, kapan saja dan dimana saja. Hamba rabbani akan menggetarkan atap-atap langit dengan tasbih dan tahmidnya kapan saja dan dimana saja.

Hamba rabbani akan menggelar �konser� tahlil di mesjid-mesjid, di mushala-mushala, di kereta-kereta, di mobil-mobil dan dimana saja dia berada. Bibirnya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah, kalbunya penuh dengan cahaya Allah. Hamba rabbani terus berjalan di atas shiratal mustaqim.

Hamba rabbani memiliki mata anti maksiat, telinga anti desas-desus, mulut anti fitnah dan adu domba. Hatinya sebening mutiara dan pikirannya secerah bintang kartika.

Tak heran jika hamba-hamba rabbani ini akan menjadi suluh dan secercah cahaya yang akan memberikan penerangan terhadap manusia-manusia lain. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun di setiap detakan waktu, di setiap tarikan nafas, di setiap langkah kaki. Dia menjadi musuh utama hamba syaitani, manusia-manusia yang mengabdi pada kehendak syetan dan hawa nafsunya.
https://
Di bulan Ramadhan ini, kesempatan untuk melatih diri menjadi hamba rabbani betul-betul terbuka lebar. Karena, bulan ini mengandung berbagai keistimewaan. Bulan ini bulan paling mulia diantara sebelas bulan lainnya, bulan yang di dalamnya rahmat dicurahkan, ampunan ditawarkan dengan gencar, pembebasan dari api neraka dibuka lebar-lebar. Bulan yang di dalamnya tangan-tangan syetan dibelenggu, pintu Rayyan dibuka menganga.

Bulan yang sedekah di dalamnya jauh lebih baik dari pada sedekah https://n lainnya, pahal-pahala amal dilipat tanpa diketahui jumlah lipatannya. Bulan dimana umrah yang dilakukan pada bulan ini setara dengan ibadah haji di bulan lain, atau dalam hadits lain disebutkan laksana melakukan haji bersama Rasulullah.

Bulan yang di dalamnya doa-doa tidak tertolak saat dipanjatkan pada saat berbuka. Bulan yang di dalamnya Al-Qur�an untuk pertama kalinya diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Bulan yang menjadi tameng pelakunya dari api neraka, laksana tameng mereka pada saat perang.

Bulan ini akan menjadi uji coba pertama siapa diantara kita yang mampu merengkuh semua pahala di bulan suci untuk kita jadikan bekal menjadi hamba rabbani di masa-masa mendatang. Bekal ketakwaan, bekal kesabaran, tahan uji, kepekaan sosial, kearifan ucapan dan lainnya. Kelulusan kita di bulan ini sangat menentukan apakah kita mampu menjadi hamba rabbani atau kita gagal mencapainya.

Maka, tidak ada cara lain bagi kita selain mengokohkan �otot� ketakwaan kita kepada Allah di bulan suci ini, agar kita tidak menjadi �abdun ramadhani, hamba yang hanya takwa, sabar dan tawakkal di bulan Ramadhan. Hamba yang hanya tahu hak dan kewajibannya di bulan Ramadhan, hamba yang hanya menyucikan telinga, mata, mulut, dan lisannya di bulan Ramadhan semata.

Kita berharap, bahwa puasa tahun ini akan mencetak kita menjadi hamba rabbani dan bukan hamba ramadhani. Fakun �abdan Rabbaniyan wala Takun �Abdan Ramadhaniyan. Semoga. Amien.

Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ramadhan ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

[ Back To Beranda ]



 
   
Rubrik Pemilu
PILKADA 2007
Profil dan Visi Misi
Pasca Pilkada
PILGUB 2008

Artikel Terakhir
 PILKADA 2007
Pemkab Bekasi Bangun 8 Unit SMP
Kampus ITB akan Dibangun di Kabupaten Bekasi
Jalan Santai dan Pasar Rakyat Kabupaten Bekasi
 Rubrik Utama
PKS siap Jadi Partai Terbuka Bagi Nonmuslim
Tuntut Blokade Dibuka, PKS Kumpulkan Dana untuk Palestina
SBY-Kalla Dapat Nilai Enam
 Rubrik Tarbiyah
Ya Syaikh ... Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami !
Kiat 1 : Bersahabatlah dengan Anak dan Jadilah Teladan
Ya Allah
 Rubrik Ramadhan
Tadabbur 30 : Langkah ke depan Alumni Ramadhan
Tadabbur 29 : Kembali Fitri dengan Tampilan lebih Islami
Tadabbur 28 : Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Hamba Ramadhani

Samudra Hikmah
Tiga Akar Kesalahan
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Akar dari kesalahan itu ada tiga. Pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalamai apa yang ia alami. Kedua, keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga. Ketiga, kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan. Sedang kezhaliman itu sumbernya kedengkian. (Ibnu Qoyyim)

Tiga Disukai, Tiga Dibenci
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Rasulullah SAW bersabda, " Ada tiga golongan yang disukai Allah. Dan tiga yang lain dibenci-Nya. Yang dicintainya adalah : Pertama, seseorang yang mendatangi suatu kaum, yang datang meminta bantuan karena Allah, bukan karena hubungan kekerabatan diantara mereka. Tapi kaum itu menolak. Lalu ada seseorang yang diam-diam memberi orang itu bantuan. Tidak ada yang tahu kecuali ALlah dan orang yang diberinya itu. Kedua, kaum yang bila datang kantuk kepada mereka dan membuat kepala mereka tergeletak, mereka bergegas bangkit untuk tunduk berdo'a kepada-Nya, membaca ayat-ayat-Nya. Ketiga, seseorang dalam ekspedisi pasukan, lalu bertemu dengan musuh. Ia pun menyongsong musuh itu dengan dadanya (tidak lari), hingga ia terbunuh atau diberi kemenangan. Sedang tiga golongan yang dimurkai adalah orang tua yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang kaya yang berbuat zhalim. " (HR. At-Tirmidzi)

Dua Hal Setelah Mengenal Allah
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Tak ada sesuatu yang lebih mulia bagi seseorang setelah mengenal Allah daripada dua hal Pertama, mengetahui hal-hal yang dibenci dan dilarang Allah. kedua, mengetahui hal-hal yang dicintai Allah. Ketahuilah... perbuatan paling utama untuk mendapat ridha Allah adalah dengan menjauhi hal-hal yang dibenci-Nya, kemudian melaksanakan hal-hal yang dicintai dan disukai-Nya. (Al-Harits Al-Muhasabi)

Dua Tempat Pemberhentian Hamba
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Seorang hamba punya dua tempat pemberhentian di hadapan Allah SWT. Pertama, ketika ia shalat di hadapan-Nya. Kedua, ketika ia berdiri di hadapan-Nya di hari Kiamat. Barangsiapa menunaikan hak tempat pemberhentian yang pertama maka ia akan diringankan pada tempat pemberhentian yang kedua. Dan barangsiapa yang meremehkan tempat pemberhentian ini dan tidak menunaikan haknya maka Allah akan mempersulitnya di tempat pemberhentian yang kedua. (Ibnul Qoyyim)

Antara Dua Harapan
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai harapannya, maka Allah akan memberikan kepuasan dalam hatinya, menghimpunkan segala impiannya, dan duniapun akan mendatanginya dengan merunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan jadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala impiannya, dan dunia takkan mendatanginya melainkan apa yang telah ditentukan baginya (HR. Tirmidzi)

Dua Jenis Syetan
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Rasulullah SAW bersabda : Syetan yang menggoda orang Mukmin telah bertemu dengan syetan yang menggoda orang kafir. Ternyata syetan yang menggoda orang kafir itu rambutnya berminyak, gemuk dan kekar. Sedangkan syetan yang menggoda orang mukmin itu kurus, kusut, kotor, dan telanjang. Maka berkatalah syetan yang menggoda orang kafir, Mengapa kamu jadi kurus begitu ? Ia menjawab, Aku tinggal bersama orang yang apabila makan, ia menyebut nama Allah, sehingga aku tetap lapar. Dan apabila ia minum ia menyebut nama Allah, sehingga aku tetap haus. Apabila berpakaian, ia menyebut nama Allah, sehingga aku tetap telanjang. Apabila meminyaki kepalanya, ia menyebut nama Allah, sehingga aku tetap kusut masai. Maka berkatalah syetan yang menggoda orang kafir, Aku hidup bersama orang yang tidak pernah melakukan itu semua. Oleh karena itu aku ikut makan, minum dan berpakaian bersamanya.

Dua Hal yang ditakuti Ali ra.
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Dua hal yang paling kutakuti atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Angan-angan yang panjang dapat melailaikan akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Ingatlah... Sesungguhnya dunia ini akan ditinggalkan dan akan datang penggantinya. Masing-masing, diantara dunia dan akhirat memiliki anak. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini (dunia) ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan hari esok (akhirat) ada hisab dan tidak ada lagi amal. (Ali bin Abi Thalib : Zuhud - Imam Ahmad)

Dua macam Sifat Tamak
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Tamak ada dua. Tamak yang merisaukan (menyakitkan) dan tamak yang memberi manfaat. Adapun yang memberi manfaat, adalah ketamakan seseorang kepada ketaatan kepada Allah SWT. Sedang yang merisaukan adalah ketamakan seseorang kepada dunia, tersiksa dan selalu sibuk tanpa ada rasa gembira, tidak merasakan kenikmatan ketika mengumpulkannya karena kesibukannya, tidak pernah kosong kecintaannya kepada dunia atas akhiratnya. Bersusah payah untuk sesuatu yang fana dan dilengahkan dari sesuatu yang kekal dan abadi. (Abdul Wahid bin Zaid)

Dua ukuran Cinta kepada Allah
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Jika kamu ingin mengetahui seberapa cinta Allah kepadamu dan kepada selainmu, maka : Pertama, lihatlah volume cintamu kepada kalam-Nya yaitu Al-Qur'an, dihatimu. Kedua, seberapa besar volume kenikmatanmu dan keasyikanmu tatkala mendengar lantunan firman-Nya. Sudahkah keasyikan itu melebihi keasyikan para pecandu musik dan nyanyian tatkala nyanyian itu diperdengarkan ? Sesungguhnya merupakan hal yang wajar, bahwa barangsiapa yang mencintai seorang kekasih maka suara dan pembicaraan kekasihnya adalah sesuatu yang sangat dicintai. (Ibnul Qoyyim)

Satu Akibat Sombong dan Manfaat Rendah Hati
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Barangsiapa congkak karena merasa dirinya mulia, maka Allah akan menghinakannya. Siapa yang tawadhu' kepada Allah karena khusyu', maka Allah akan meninggikannya. Sesungguhnya Malaikat itu mempunyai bisikan dan syetan juga mempunyai bisikan. Bisikan Malaikat ialah menyusupkan kebaikan dan meyakini kebenaran. Jika kalian melihat hal yang demikian itu, maka pujilah Allah. Adapun bisikan syetan adalah menyusupkan kejahatan dan kedustaan pada kebenaran. Jika kalian melihat hal yang demikian itu, maka mintalah perlindungan kepada Allah. (Abdullah Bin Mas'ud)


New Download
 Download Lain...
Jadwal Shalat

Wilayah Bekasi
Rabu, 6 Agustus 2008
Shubuh : 04:50:59  WIB
Terbit : 06:02:52  WIB
Zhuhur : 11:58:55  WIB
Ashar : 15:20:50  WIB
Maghrib : 17:55:03  WIB
Isya : 19:06:52  WIB

Random Gallery

Kreasi salah satu Team untuk memompa semangat


Headline News
Situs Dakwah :
Dakwatuna.com
Al-Ikhwan.net

Pemerintahan :
Presiden RI
LKBN Antara

Media Massa Nasional :
Indosiar News
Detik News
Media Indonesia News
Tempo News
Kompas News
Suara Merdeka News

 

DPD PK Sejahtera Kabupaten Bekasi © 2006 - Jl. Perjuangan No.44 RT.02 RW.02 Desa Tambun Kec. Tambun Selatan, Bekasi
Telp. 021-88327165 - email : admin @ pks-kab-bekasi.org
Masukan, kritik dan saran bisa via SMS Admin ke +628161117655